Sabtu, 30 September 2017

Mengurus Kehilangan KTM (Lagi)

Ini adalah kesekian kalinya saya mengurus kehilangan benda berukuran sebesar kartu nama yang menjadi bukti bahwa saya mahasiswa; KTM.
Layaknya kunci yang sudah hilang ketiga kalinya di parkiran hingga mas-mas parkiran hafal dengan saya, benda ini mengikuti rekor kunci tersebut. Hilang untuk ketiga kalinya.

Saya pun sedikit banyak menjadi hafal bagaimana cara mengurus benda mungil itu:
1. Urus surat kehilangan di kantor polisi > biasanya saya mengurus di Polsek Bulaksumur di selatan Bulaksumur Residence. Bilang, kehilangan KTM, mau mengurus surat kehilangan. Yang perlu disiapkan adalah KTP atau tanda pengenal dan rincian barang yang hilang: barangnya apa, hilang di mana, NIU berapa. Dalam sekejap, jadi!
2. Selanjutnya, transfer Rp20.000,00 ke rekening untuk pengurusan pembuatan KTM (nomor rekening bisa didapat di DAA > sekarang istilah DAA apa ya? Pokoknya kantor yang ada di daerah seberang Gelanggang lah. Yaa itu lah yaa).
3. Datang ke DAA, bilang mau mengurus pembuatan/cetak KTM hilang. Kadang jadi dalam beberapa hari, kadang langsung jadi.
4. Selesai, punya KTM lagi deh :)

Ah, sedikit bercerita. Mungkin penting mungkin tidak.
Tapi saya hanya terharu akan Bapak Polisi yang bertugas kemarin saat saya mengurus surat kehilangan. Kemarin adalah pertama kalinya, sekali lagi, pertama kalinya, saya tidak dimintai 'dana administrasi seikhlasnya' untuk pembuatan surat kehilangan. Selalu salut dengan orang-orang begitu. Entahlah, apa kali ini aturan sudah diperketat atau saya yang kebetulan 'bejo' diuruskan oleh Bapaknya. Bener-bener ya, walaupun paling kalau bayar juga 'cuma' bayar Rp5.000-10.000,00, tapi bagi anak kos itu berharga wkwk. Dan yang lebih berharga lagi adalah kejujuran Bapaknya :)

Dan refleks saja saat itu saya yang heran hanya bisa mendoakan dalam hati agar rezeki dan urusan Bapaknya dilancarkan, dimudahkan, karena memudahkan urusan dan mengangkat satu beban pikiran dari mahasiswa akhir penuh kegalauan ini *alay wkwk

Yasudah. Sekian ketidakjelasan kali ini. Semoga langkah pengurusan kehilangan KTMnya bermanfaat~

Perjalanan Yogyakarta-Jakarta-Surabaya: Hikmah#1 Kalah Cepat

Yogyakarta, 20 September 2017

Siang itu saya bergegas ke stasiun.

"Iskom, pulang Senin aja."
Hmm saya pun berpikir begitu. Terlalu melelahkan ketika Rabu dari Jogja, Kamis sampai Jakarta, Jumat ke Surabaya, Sabtu sampai Surabaya dan Ahad pagi kembali ke Jogja. Maka jadilah hari itu saya menukarkan tiket kepulangan Surabaya-Yogyakarta tanggal 24 September dengan 25 September.


*Berbagi sedikit tentang memundurkan/memajukan tiket. Datanglah ke customer service, nanti akan diberikan blangko permintaan penggantian jadwal kereta. Bilang atau isikan pada blangko mengenai perubahan-perubahan tersebut. Lalu pergi dari CS dan pergi ke loket untuk mencetak bukti bayar yang baru dan mendapatkan kode booking. Uang yang sudah dibayarkan saat pembelian tiket yang lalu akan terpotong 25%nya. Bayarkan kekurangan tersebut. Selesai. Jadwal keberangkatannya akan berganti sesuai jadwal keberangkatan yang baru :)


Hari itu di stasiun cukup ramai. Antrian CS tidak terlalu seramai antrian loket. Tidak berapa lama setelah mengambil nomor antrian, saya mengurus ke CS lalu diarahkan untuk mengambil antrian loket.

Antrian loket ternyata jauh lebih membutuhkan kesabaran dibanding antrian sebelumnya. Masih ada 80 nomor di depan yang harus ditunggu untuk menuju giliran. Karena orang di sebelah saya sepertinya tidak tertarik untuk berbincang, maka seperti biasa, saya pun lebih memilih untuk menggunakannya untuk membaca buku. Daripada waktu itu terbuang sia-sia.

Satu jam berlalu sudah.
Orang di sebelah saya berganti entah sudah keberapa kalinya. Kali ini seorang perempuan yang sepertinya lebih tua sedikit dari saya duduk di sebelah, memulai perbincangan. Saya tersenyum, menutupkan buku yang ada di tangan. Yaa perbincangan seputar hendak kemana dsb. Basa basi khas ala orang yang hendak bepergian. Orang yang ramah, pikir saya. Sebut saja namanya Mba Bunga. Mahasiswi di salah satu universitas swasta di Yogyakarta.

Tak lama kami berbincang, datang seorang perempuan yang sepertinya kisaran 30an tahun datang dan duduk di sebelah Mba Bunga. Terlihat kebingungan. Ibu itu adalah orang yang akan diperhatikan di keramaian karena dirinya 'berbeda' dari orang kebanyakan.

"Mau kemana, Bu?" Tanya Mba Bunga ramah.

Ibu yang terlihat ada keterbatasan fisik itu pun dengan agak terbata-bata menjelaskan,

"Saya mau ke Nganjuk Mba, mau pulang. Tapi saya ngga punya uang. Ini saya dari Tugu jalan ke sini. Tadi di sana saya bilang uang saya hilang malah diusir, disuruh minta-minta, padahal saya mau beli tiket tapi dompet saya hilang Mba. Gara-garanya tas saya dirobek oleh orang. Waktu saya liat lagi dompet saya udah ngga ada di tas, barang-barang saya juga."

Ibu itu membuka tas besarnya dan menunjukkan tas punggungnya yang dirobek.

Saya pun turut menyimak percakapan.

"Owalah, la terus Ibu ini mau gimana kesananya? Memang tiket kesana berapa harganya, Bu?"

"55ribu Mba. Tapi saya udah gapunya apa-apa Mba."

Mba Bunga berbisik ke saya dan mengatakan, kasihan.

Yap, saya pun merasa demikian. Kok ada yang tega-teganya merobek tas seorang ibu dengan keterbatasan, ya Allah.

Tapi tentu saja maraknya penipuan yang menimbulkan 'rasa kasihan' membuat saya tidak serta merta memberikan bantuan. Bukannya tidak percaya, tidak mau membantu, atau apa. Tapi menjadi orang polos dan memberi hanya berdasar kasihan sepertinya sudah tidak bisa diterapkan saat ini.

Saya pun menanyakan, " La Ibu ada KTP kah Bu? Kan kalau beli tiket kereta harus pake identitas Bu."

Si ibu terlihat ingin menangis, dengan susah payah ia berkata, " Gaada Mba, dompet saya seisi-isinya semuanya hilang Mba. Saya ngga ada KTP."

Duh Gusti. Di satu sisi saya ingin membantu, tapi di sisi lain saya tidak ada pegangan untuk memastikan benar tidaknya. Identitas pun tidak ada.

"Terus ibu mau kesananya gimana Bu? Kan kalo gaada KTP gabisa beli tiket."

"Tadi saya disuruh beli tiket ke Solo aja Mba. Terus dari Solo ke Nganjuk, saya disuruh naik bis."

Mba Bunga masuk dalam percakapan kami, "Ibu yakin nanti di Solo ibu ngga bingung gimana nyari busnya?"

"Yaa nanti disana tanya orang lagi Mba. Ya gimana, saya juga gatau apa-apa. Cuma bisa ngandalkan tanya orang."

Mba Bunga pun tersenyum dan merogoh dompetnya. Mengeluarkan selembar 10ribuan dan memberikannya ke Ibu itu.

"Yaudah, Bu. Ibu sekarang pergi ke loket, bilang beli tiket ke Solo sekarang. Saya yang bayarin."

Sang Ibu terlihat berkaca-kaca lalu bergegas ke loket untuk membeli tiket.

"Mba, katanya saya disuruh langsung masuk. Keretanya bentar lagi."

Ibu itu pun menunjukkan tiketnya. Sekitar 20-30 menit lagi.

Mba Bunga kembali mengeluarkan uang dari dompetnya. Selembar 50ribuan.

"Ibu, ini uang buat nge-bis ya Bu, jangan dipake buat yang lain-lain. Nanti kalo udah sampe Solo, tanya, kalo mau naik bis ke Nganjuk harus ke mana."

Sang Ibu hanya bisa berkaca-kaca sembari mengucap terima kasih. Lalu ibu itu bergegas masuk.

Saya yang tadinya pun berniat ingin membantu hanya terdiam. Masya Allah, kalah cepat dalam berbuat kebaikan itu rasanya... :')

"Ya Allah ada ya yang tega ngerobek tas Ibunya. Padahal ada keterbatasan. Kasian Ibunya," kata Mba Bunga pada saya.

Saya pun hanya menganggukkan kepala.

"Tadinya saya mikir ini Ibunya beneran ngga, tapi pas dirasa-rasa, didengerin ceritanya kayanya kok ngga bohong."

"Oiya Mba emang tiket bis Solo Nganjuk berapaan?"

"Oiya ya."

Kami pun mencari harganya di internet. Sekitar 45-50ribu.

"Ya semoga cukup ya uangnya. Dan semoga sampai sana nanti ada yang mau bantu Ibunya lagi."

Saya hanya bisa meng-aamiin-i.

Tepat setelah kejadian itu, nomor antrian saya dipanggil ke loket. Nyaris saja terlewat. Saya pun berpamitan ke Mba Bunga dan bergegas pulang karena harus mempersiapkan perjalanan sore itu ke Jakarta.

Dan siang itu, saya bersyukur. Mengantongi beberapa pembelajaran, belajar dari buku yang saya baca, dan belajar dari apa yang terjadi di sekitar saya.

Pembelajaran, hikmah, sebenarnya terserak di mana-mana. Maka dalam Al-Qur'an seringkali disebutkan, tidakkah kamu berpikir, tidakkah kamu mengamati, dan kata-kata penyadaran lainnya. Maka, berpikirlah. Latih kepekaan akan 'hal-hal kecil bernilai besar' di sekitar kita :)

Kamis, 28 September 2017

Kesempatan dan Penyesalan

Mengutip beberapa kalimat yang saya baca dalam sebuah novel:

"20 tahun dari sekarang, kamu akan lebih menyesali apa-apa yang tidak kamu lakukan daripada apa-apa yang kamu lakukan."

Pernah mendengar kalimat tersebut? Tidak asing bukan? Sebuah kalimat yang saya baca dulu, entah kapan tepatnya. Tapi begitu membekasnya kalimat itu hingga saat ini.

Penyesalan pertama.

Malam ini saya berbincang via online dengan seorang adik yang mengikuti suatu beasiswa yang sebenarnya dulu sangat ingin saya daftar tapi tidak jadi karena ketidak-pede-an saya. Seorang adik super inspiratif yang bahkan di akhir ceritanya ia berkata, "menulis itu bagian dari hidupku mba."

Bercerita panjang lebar tentang beasiswa itu membuat saya sebenarnya menyesal. Mengapa dulu saya tidak mencobanya? Mengapa patah arang sebelum berjuang?

Ah, selalu begitu. Dan ini bukan yang pertama kalinya.

Akan saya ceritakan sedikit tentang beasiswa ini. Namanya beasiswa Aktivis Peneleh. Saya sangat mengingat dulu saya tidak berani mendaftar karena orang-orang yang saya kenal terlihat sangat 'wah' dengan kontribusinya di masyarakat.

Pada kesempatan itu adik itu menceritakan yang penting mencoba dulu dan penuhi saja syaratnya. Dia bercerita bahwa disana ia diajarkan untuk produktif menulis. Ada hak, ada kewajiban. Untuk mendapatkan hak berupa beasiswa, ada kewajiban menulis yang harus ditunaikan. 4 berita, 1 opini per bulan. Menurut saya, betapa beruntungnya, mendapat suatu sistem yang mau tidak mau 'memaksa' untuk menjadikan diri ini produktif untuk menulis. Memaksa, tapi juga melatih kita untuk terbiasa. Dan saya begitu merasakan saat ini. Menulis adalah sesuatu yang wajib dipelajari sejak dini. Wajib. Karena gagasan, pikiran, ide, bisa tersalurkan tanpa dimakan waktu melalui tulisan. Ucapan seringkali akan terlupakan atau bahkan berubah makna seiring pergantian zaman. Tulisan akan mengabadikan semuanya.

Penyesalan kedua.

Berbincang dengan adik itu mengingatkan saya akan orang yang saya kenal dari suatu acara sosmas, penerima beasiswa itu pula di periode sebelumnya.

Saya selalu merasa kagum dengan orang-orang yang bisa berkontribusi lewat ke khasannya, kemampuannya, bidang ilmunya dengan sepenuh hati dan semaksimal yang ia bisa. Dan entah kenapa saya paling kagum dengan orang yang mendalami bidang sosial-masyarakat, walaupun tentu saja orang lain pun hebat dengan kontribusi di bidangnya.

Dan pertama kali saya bertemu orang itu, saya langsung kagum akan bagaimana kesinkronan antara passion dan apa yang sedang ia jalani: tentang bagaimana terjun ke masyarakat. Saya kagum dengan keluwesanya berbincang dengan staf dan peserta dalam acara tersebut. Mengalir saja. Sebagai orang yang hanya menilai dari luar dan hanya sebatas kenal sebentar saja, saya bisa merasakan bahwa ia menikmati dunianya. Dan sepanjang acara itu, saya benar-benar mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang bagaimana terjun ke masyarakat. Mungkin kata orang, "apa yang disampaikan dengan hati, kan masuk ke hati." Dan mungkin karena panitia melaksanakan acara itu sepenuh hati, maka materi yang diberi masih berkesan hingga saat ini.

Lalu, setelah acara itu berakhir, ada sebuah acara besar lagi yang diadakan. Temanya sama, tentang sosmas. Bertepatan dengan hari raya Idul Adha dan dilaksanakan di sebuah desa di Yogyakarta. Tadinya, saya sudah benar-benar akan mengikutinya. Bahkan sudah membayar biaya pendaftaran. Saya sudah membayangkan bagaimana serunya terjun ke masyarakat bersama teman-teman lain. Tapi Qadarullah, yang lebih berhak untuk dipenuhi baktinya meminta saya untuk pulang; orang tua. Akhirnya saya yang harus membatalkan keikutsertaan saya di acara tersebut. Hanya bisa coba ikut serta dengan biaya yang sudah dibayarkan dan tidak mengambilnya kembali, karena keinginan untuk ikut itu masih ada. Bahkan hingga saat ini.

Malam tadi saya melihat video acara tersebut dan rasanya.. Yaa mau bagaimana lagi, terlanjur sudah tidak ikut. Dan yang lalu ya sudah berlalu, tidak bisa diulang lagi 

Penyesalan ketiga.

Semangat ingin terjun ke masyarakat itu masih tetap ada. Ya, sejak awal saya ingin berkontribusi di bidang Pengabdian Masyarakat/Sosmas di organisasi. Kesempatan pertama kali, saya mencoba mendaftar di BEM Fakultas. Ditolak. Baiklah. Coba kesempatan lain.

Kesempatan kedua, saya mencoba mendaftar PM di sebuah organisasi mahasiswa kesehatan nasional di tingkat regional Jogja. Alhamdulillah diterima. Ternyata, melakukan hal yang sesuai dengan minat memang sangat menyenangkan :')

Di organisasi itu, sungguh saya merasa sangat senang. Merasa sangat beruntung. Hingga saat pergantian kepengurusan, saya dilobby untuk menjadi kepala divisi PM. Ya Allah, seolah mimpi untuk berkontribusi makin terbuka lebar. Namun, saat itu, di saat yang bersamaan, amanah sebagai bendahara di satu organisasi dan juga amanah sebagai sekretaris di organisasi lainnya, baru saja saya pegang. Amanah bendahara yang sebelumnya sudah saya coba untuk tolak karena sudah diamanahi sebagai sekretaris di organisasi lain ternyata tidak berhasil untuk dialihkan ke orang lain, forum tetap berkata demikian. Bila bisa saya memilih sejak awal, sepertinya saya akan lebih memilih untuk berkontribusi di PM ini dibandingkan dengan bendahara dan sekretaris itu. Namun sayang, kesempatan ini datang belakangan.

Maka dengan berat hati saya memutuskan untuk tidak menerima dan tidak bisa aktif lagi di PM untuk mengemban 2 amanah lainnya. Rasanya melepas apa yang disukai itu berat. Tapi daripada apa yang disukai itu menjadi buruk karena diri ini yang tidak maksimal, saya memilih untuk melepaskan. Dan..apa ya...rasa berat itu, menyesalnya, bahkan terbayang hingga sekarang.

Penyesalan keempat.

Dan di tahun akhir, saya kembali ditawarkan sebuah kesempatan untuk berkontribusi bersama di bidang kemasyarakatan di suatu organisasi mahasiswa. Hanya saja lingkupnya agak berbeda dengan yang lalu. Bila sebelumnya menjadi orang yang langsung terjun ke masyarakat lewat tindakan nyata, maka kali ini terjun dengan risetnya. Ya Allah, sebenarnya betapa ingin diri ini mengiyakan. Tapi, pesan orang tua selalu terkenang, "Ndak usah ambil amanah apa-apa lagi, Dek. Fokus skripsian aja."

Berat? Berat. Apalagi ini adalah yang kesekian kalinya. Seolah diberi kesempatan lagi, tapi sekali lagi, tidak bisa mengambilnya :')

Maka kali itu, untuk kesekian kalinya, saya menolak dan mencoba menyarankan orang lain yang lebih berpengalaman. Bukan karena saya tidak ingin, tapi ada pesan orang tua yang berat untuk tidak dilaksanakan.
Saat ini, terkadang saya merasa menyesal mengapa tidak mengiyakan. Tapi di sisi lain, bila mengiyakan, saya pun tidak tau akan menjadi seperti apa diri saya sekarang.

Hari ini, belum mencapai 20 tahun dari kejadian, dan begitu banyak penyesalan. Saya tahu, hal ini bukan untuk dikeluhkan ataupun disesalkan. Tapi begitu sulit mencari padanan kata yang lebih tepat selain kata menyesal. Hanya sekadar berbagi pengalaman, tentang apa-apa yang justru tidak bisa saya lakukan padahal saya inginkan. Dan saya berkaca, itu karena ketidakbisaan saya berkata tidak untuk apa yang tidak saya inginkan.

Maka bila kalian mendapat kesempatan, perhitungkan matang-matang. Bila tidak sesuai dengan yang kalian inginkan dan masih ada yang bisa kalian kejar, jangan ragu untuk berkata tidak pada yang tidak kalian inginkan. Jangan sampai 'iya' pertama yang 'terpaksa' justru memunculkan 'tidak' di kesempatan lain yang sebenarnya kalian inginkan dan memunculkan penyesalan-penyesalan.

Memang tidak ada yang sia-sia dalam hidup dan pastinya setiap keputusan yang kita ambil dahulu, telah berhasil membentuk kita yang sekarang.
Tapi untuk ke depan, cobalah untuk merencanakan. Melihat langkah-langkah apa yang kita butuhkan, langkah-langkah apa yang kita harus lakukan, untuk membentuk diri yang kita inginkan ke depan.

Perhitungkan matang-matang tiap keputusan, Kawan. Apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya diterima. Apa yang sebenarnya dan tidak sebenarnya kalian ingin untuk lakukan. Rencanakan. Jangan sampai 20 tahun dari sekarang penyesalan itu datang :)

Kamis, 07 September 2017

Berat atau Tidak Bergantung Niat

Pagi kemarin saya bercerita kepada seorang teman tentang sesuatu yang saya rasa begitu sulit untuk dilakukan. Saya menanyakan apa yang sebaiknya saya lakukan.

Dan ternyata kami memiliki masalah yang tidak jauh berbeda. Maka tidak ada penyelesaian yang berarti, hanya berujung saling bertukar cerita.

Dan sore ini, kontan, Allah membantu saya untuk menjawabnya. Lewat konteks yang berbeda.

Semuanya bergantung niat.

Saya kembali diingatkan tentang itu.

Ringan atau beratnya sesuatu untuk dilakukan atau tidak dilakukan bergantung seberapa kuat niat kita untuk melakukan atau tidak melakukannya. Bergantung pada seberapa kuat niat kita untuk memulai atau tidak memulainya kembali. Bergantung seberapa kuat niat kita untuk menjalankan apa yang kita niatkan.

Selalu terkesan dengan cara-Nya mengingatkan saya lewat hal-hal yang tidak terduga. Selalu ada jalan yang 'unik' untuk-Nya mengingatkan hamba-Nya.

Sesederhana saya menyadari hari ini bahwa ketika puasa diniatkan maka terasa ringan dan bila terlupa untuk diniatkan akan terasa berat.

Dan ternyata mungkin dari situlah Allah ingin mengingatkan saya tentang niat.

Bahwa ketika meniatkan untuk meninggalkan keburukan jangan setengah-setengah.

Bahwa ketika meniatkan untuk melakukan kebaikan pun jangan setengah-setengah.

Karena justru ke'setengah-setengah'an itulah yang seringkali membuat berat pelaksanaan. Seolah belum yakin tentang apa yang dilakukan sehingga sangat mungkin untuk terhenti di tengah jalan.


Yap. Kuncinya sudah ditemukan. Perbaiki, catat benar-benar dalam hati, kuatkan niat.

Pengingat Diri

"Yang tidak bisa disampaikan dengan lisan, bisa disampaikan dengan tulisan.
Tapi yang bahkan tidak bisa disampaikan dengan tulisan, semoga bisa tersampaikan lewat doa yang diam."

"Memilih untuk melakukan mungkin akan terasa menyenangkan. Tapi perlu diingat bahwa penyesalan selalu datang belakangan.
Mencoba teguh terhadap prinsip yang selama ini dipegang mungkin tidak mudah. Tapi semoga bisa menjadikan segalanya lebih barokah."

Sekadar pengingat untuk diri yang masih terus belajar, belajar dan belajar. Mencoba menahan, mencoba memilih dan memilah, mana yang boleh dan tidak boleh, mana yang patut dan tidak patut untuk dilakukan sekarang, mana yang ahsan/yang baik dan mana yang tidak.
Sudah terlalu banyak kekurangan, terlalu banyak khilaf-khilaf tidak beralasan, terlalu banyak celah yang harus diri ini tambal.

Masih jauh, sangat jauh dari kata baik, tapi inilah yang namanya berproses, bukan?

Tidak mudah.
Jatuh bangun. Niat yang naik turun. Lelah untuk membujuk diri. Ingin menyerah saja rasanya. Tidak jarang nyaris kembali ke kondisi yang sama. Tidak bisa dengan serta merta bisa berubah. Rasanya sulit sekali untuk istiqomah.
Butuh waktu, butuh kesabaran, bahkan tidak jarang pengorbanan.

Dan jangan coba disamakan, proses yang seseorang tempuh, ketika cara pandang tiap orang terhadap suatu hal pun berbeda-beda.

Teringat beberapa kalimat yang cukup menusuk bagi saya,
"Seseorang terlihat baik bukan karena ia memang sudah baik. Tapi karena Allah menutupi aib-aibnya.
Bila Allah membukanya, niscaya orang-orang akan enggan mendekat dan mengenali."

Maka, "bila kalian mengenalku sebelum hijrahku, bantulah aku menutupi aib-aibku."

Dan untuk diri ini, saat futur itu datang, ingat lagi:

Ridho Allah nomor satu. Ridho Allah nomor satu. Ridho Allah nomor satu.

Saat mulai tergeser, ingat lagi:
Allah. Allah. Allah.

Maka lakukan semua dengan cara yang Allah suka, hindarkan cara-cara yang Allah benci. Sesulit apapun itu. Seberat apapun untuk dilakukan.
Yuk, belajar.

*Hanya sebuah catatan sederhana sebagai pengingat. Harapannya bisa menjadi pengingat bagi diri bila nanti futur datang menghampiri bahwa saya pernah menuliskan ini*

Sabtu, 02 September 2017

"Kapan?"

sumber gambar: google

Layaknya mahasiswa akhir pada umumnya, pertanyaan 'kapan' sepertinya menjadi pertanyaan yang seringkali diajukan oleh setiap orang yang ditemui.
"Kapan lulus?"
"Kapan wisuda?"
"Kapan nikah?"
"Kapan balik kampung?"
"Kapan kerja?"
dan serentet pertanyaan kapan lain yang tidak akan ada habisnya walaupun kamu sudah berhasil menjawab pertanyaan kapan sebelumnya. Dan saya lelah dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Apalagi bila ada embel-embel 'udah pantes'. Rasanya tu gemes gimana gitu sama yang tanya wkwk.

Mbok yo wes to.
Tiap orang punya rencana hidupnya masing-masing. Tiap orang berjalan di zona waktunya masing-masing. Jadi tidak usah membandingkan orang yang satu dengan orang yang lain. Tidak usah membandingkan Si A dengan si B, si B dengan si C. Jangan membandingkan seseorang yang belum memperoleh A dengan orang yang sudah memperoleh A. Jalan orang tu masing-masing. Tidak perlu lah dibanding-bandingkan. Rezeki sudah ada yang mengatur. Semua yang terjadi bahkan sudah dituliskan oleh-Nya jauh sebelum kita ada. Jadi tidak usah terlalu mencampuri urusan orang lain dan dengan semangatnya mencecarnya dengan pertanyaan "kapan"  bila memang tidak bermaksud membantu atau benar-benar menanyakan alias hanya iseng saja. Tolong.

Masing-masing dari memiliki waktu yang berbeda untuk mengalami ataupun tidak mengalami sesuatu. Memiliki rencana yang berbeda untuk mengambil atau tidak mengambil suatu pilihan di umur yang mungkin sama. Silakan menjalani hidup masing-masing.

Bukan berarti tidak mempedulikan, hanya mencoba menghormati pilihan yang diambil orang. Setiap orang memiliki life plannya masing-masing. Cobalah untuk tidak menambah beban pikiran yang, mungkin, bagi orang lain memang belum untuk dipikirkan. Pantas atau tidak, siap atau belum, bukan orang lain yang menentukan. Diri kita masing-masing lah yang merasakan. Orang lain boleh memberi saran, tetapi diri kita yang pada akhirnya akan merencanakan "kapan"-"kapan" itu terjadi dalam hidup kita. Dan Allah lah yang memutuskan kapan waktu yang tepat bagi pertanyaan "kapan" untuk terjawab.

Jadi, tolong. Berhentilah bertanya "kapan" bila memang tidak diperlukan. Insya Allah semua akan terjadi pada waktu yang tepat, pada saat yang terbaik menurut-Nya :)

Jumat, 30 Juni 2017

Tentang Sabar dan Syukur

Ada 3 cara bagi diri kita untuk merespon sesuatu yang kita anggap pahit dalam hidup:
1. menolak
2. bersabar
3. bersyukur.

Sabar ibarat sebuah pintu, dan syukur ibarat sebuah ruangan. Saat memasuki sebuah ruangan, apakah kita akan memperhatikan terlebih dahulu pintunya? Berlama-lama di depannya? Memperhatikan terbuat dari apa, bagaimana modelnya, bagaimana pegangan pintunya? Tentu tidak. Bahkan seringkali kita tidak merasa melewatinya.

Sama seperti sabar. Kita tidak perlu merasakannya dan mengatakan, 'aku sudah bersabar sejak lama'. Tidak perlu. Apakah enak terlalu banyak bersabar? Tidak kan?

Bersabar itu ada batasnya. Benar. Karena setelah itu habis, kita harus memasuki ruang syukur, bukan ruang mengeluh dan berputus asa.

Saat manis yang terjadi dalam hidup, bersyukur? Wajar. Saat pahit yang terjadi dalam hidup, bersabar atau bersyukur? Bersyukur.
Ya, bersyukur. Allah sedang memberi kesempatan untuk kita membuktikan, untuk kita bersungguh-sungguh menunjukkan. Bahwa dalam kepahitan, kita masih dapat bersyukur. Bahwa kita percaya, apa yang terjadi dalam hidup, Allah sudah memilihkan. Dan kita harus menjalaninya dengan syukur.

Janji Allah,
"Siapa saja hamba-Ku yang bersyukur sedikit saja atas nikmat-Ku, maka aku akan benar-benar menambahkan nikmat pada hamba-Ku tersebut."

Nikmat apa? Allah tidak menyebutkan nikmat yang mana. Allah hanya menyebutkan akan menambahkan nikmat. Ini berarti Allah tidak membatasi nikmat apa yang akan Ia beri.
Lihat, betapa Allah begitu sayang pada hamba-Nya. Kita hanya bersyukur sedikit, tetapi Allah bisa membalasnya jauuh di luar apa yang kita pikirkan, Ia tidak membatasinya.

Maka, dalam hidup, apapun yang terjadi, manis atau pahit, hanya ada satu pilihan untuk menyikapinya. Syukur.
Bersegeralah melewati pintu sabar dan memasuki ruang syukur :)

*Taujih Ustadz Syatori saat Yaumul Maal Qur'an di Masjid Nurul Islam, Yogyakarta
Dengan bahasa dan isi yang mungkin agak berbeda dari yang beliau sampaikan.