Tampilkan postingan dengan label Just Share My Mind. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Just Share My Mind. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 September 2017

Mengurus Kehilangan KTM (Lagi)

Ini adalah kesekian kalinya saya mengurus kehilangan benda berukuran sebesar kartu nama yang menjadi bukti bahwa saya mahasiswa; KTM.
Layaknya kunci yang sudah hilang ketiga kalinya di parkiran hingga mas-mas parkiran hafal dengan saya, benda ini mengikuti rekor kunci tersebut. Hilang untuk ketiga kalinya.

Saya pun sedikit banyak menjadi hafal bagaimana cara mengurus benda mungil itu:
1. Urus surat kehilangan di kantor polisi > biasanya saya mengurus di Polsek Bulaksumur di selatan Bulaksumur Residence. Bilang, kehilangan KTM, mau mengurus surat kehilangan. Yang perlu disiapkan adalah KTP atau tanda pengenal dan rincian barang yang hilang: barangnya apa, hilang di mana, NIU berapa. Dalam sekejap, jadi!
2. Selanjutnya, transfer Rp20.000,00 ke rekening untuk pengurusan pembuatan KTM (nomor rekening bisa didapat di DAA > sekarang istilah DAA apa ya? Pokoknya kantor yang ada di daerah seberang Gelanggang lah. Yaa itu lah yaa).
3. Datang ke DAA, bilang mau mengurus pembuatan/cetak KTM hilang. Kadang jadi dalam beberapa hari, kadang langsung jadi.
4. Selesai, punya KTM lagi deh :)

Ah, sedikit bercerita. Mungkin penting mungkin tidak.
Tapi saya hanya terharu akan Bapak Polisi yang bertugas kemarin saat saya mengurus surat kehilangan. Kemarin adalah pertama kalinya, sekali lagi, pertama kalinya, saya tidak dimintai 'dana administrasi seikhlasnya' untuk pembuatan surat kehilangan. Selalu salut dengan orang-orang begitu. Entahlah, apa kali ini aturan sudah diperketat atau saya yang kebetulan 'bejo' diuruskan oleh Bapaknya. Bener-bener ya, walaupun paling kalau bayar juga 'cuma' bayar Rp5.000-10.000,00, tapi bagi anak kos itu berharga wkwk. Dan yang lebih berharga lagi adalah kejujuran Bapaknya :)

Dan refleks saja saat itu saya yang heran hanya bisa mendoakan dalam hati agar rezeki dan urusan Bapaknya dilancarkan, dimudahkan, karena memudahkan urusan dan mengangkat satu beban pikiran dari mahasiswa akhir penuh kegalauan ini *alay wkwk

Yasudah. Sekian ketidakjelasan kali ini. Semoga langkah pengurusan kehilangan KTMnya bermanfaat~

Perjalanan Yogyakarta-Jakarta-Surabaya: Hikmah#1 Kalah Cepat

Yogyakarta, 20 September 2017

Siang itu saya bergegas ke stasiun.

"Iskom, pulang Senin aja."
Hmm saya pun berpikir begitu. Terlalu melelahkan ketika Rabu dari Jogja, Kamis sampai Jakarta, Jumat ke Surabaya, Sabtu sampai Surabaya dan Ahad pagi kembali ke Jogja. Maka jadilah hari itu saya menukarkan tiket kepulangan Surabaya-Yogyakarta tanggal 24 September dengan 25 September.


*Berbagi sedikit tentang memundurkan/memajukan tiket. Datanglah ke customer service, nanti akan diberikan blangko permintaan penggantian jadwal kereta. Bilang atau isikan pada blangko mengenai perubahan-perubahan tersebut. Lalu pergi dari CS dan pergi ke loket untuk mencetak bukti bayar yang baru dan mendapatkan kode booking. Uang yang sudah dibayarkan saat pembelian tiket yang lalu akan terpotong 25%nya. Bayarkan kekurangan tersebut. Selesai. Jadwal keberangkatannya akan berganti sesuai jadwal keberangkatan yang baru :)


Hari itu di stasiun cukup ramai. Antrian CS tidak terlalu seramai antrian loket. Tidak berapa lama setelah mengambil nomor antrian, saya mengurus ke CS lalu diarahkan untuk mengambil antrian loket.

Antrian loket ternyata jauh lebih membutuhkan kesabaran dibanding antrian sebelumnya. Masih ada 80 nomor di depan yang harus ditunggu untuk menuju giliran. Karena orang di sebelah saya sepertinya tidak tertarik untuk berbincang, maka seperti biasa, saya pun lebih memilih untuk menggunakannya untuk membaca buku. Daripada waktu itu terbuang sia-sia.

Satu jam berlalu sudah.
Orang di sebelah saya berganti entah sudah keberapa kalinya. Kali ini seorang perempuan yang sepertinya lebih tua sedikit dari saya duduk di sebelah, memulai perbincangan. Saya tersenyum, menutupkan buku yang ada di tangan. Yaa perbincangan seputar hendak kemana dsb. Basa basi khas ala orang yang hendak bepergian. Orang yang ramah, pikir saya. Sebut saja namanya Mba Bunga. Mahasiswi di salah satu universitas swasta di Yogyakarta.

Tak lama kami berbincang, datang seorang perempuan yang sepertinya kisaran 30an tahun datang dan duduk di sebelah Mba Bunga. Terlihat kebingungan. Ibu itu adalah orang yang akan diperhatikan di keramaian karena dirinya 'berbeda' dari orang kebanyakan.

"Mau kemana, Bu?" Tanya Mba Bunga ramah.

Ibu yang terlihat ada keterbatasan fisik itu pun dengan agak terbata-bata menjelaskan,

"Saya mau ke Nganjuk Mba, mau pulang. Tapi saya ngga punya uang. Ini saya dari Tugu jalan ke sini. Tadi di sana saya bilang uang saya hilang malah diusir, disuruh minta-minta, padahal saya mau beli tiket tapi dompet saya hilang Mba. Gara-garanya tas saya dirobek oleh orang. Waktu saya liat lagi dompet saya udah ngga ada di tas, barang-barang saya juga."

Ibu itu membuka tas besarnya dan menunjukkan tas punggungnya yang dirobek.

Saya pun turut menyimak percakapan.

"Owalah, la terus Ibu ini mau gimana kesananya? Memang tiket kesana berapa harganya, Bu?"

"55ribu Mba. Tapi saya udah gapunya apa-apa Mba."

Mba Bunga berbisik ke saya dan mengatakan, kasihan.

Yap, saya pun merasa demikian. Kok ada yang tega-teganya merobek tas seorang ibu dengan keterbatasan, ya Allah.

Tapi tentu saja maraknya penipuan yang menimbulkan 'rasa kasihan' membuat saya tidak serta merta memberikan bantuan. Bukannya tidak percaya, tidak mau membantu, atau apa. Tapi menjadi orang polos dan memberi hanya berdasar kasihan sepertinya sudah tidak bisa diterapkan saat ini.

Saya pun menanyakan, " La Ibu ada KTP kah Bu? Kan kalau beli tiket kereta harus pake identitas Bu."

Si ibu terlihat ingin menangis, dengan susah payah ia berkata, " Gaada Mba, dompet saya seisi-isinya semuanya hilang Mba. Saya ngga ada KTP."

Duh Gusti. Di satu sisi saya ingin membantu, tapi di sisi lain saya tidak ada pegangan untuk memastikan benar tidaknya. Identitas pun tidak ada.

"Terus ibu mau kesananya gimana Bu? Kan kalo gaada KTP gabisa beli tiket."

"Tadi saya disuruh beli tiket ke Solo aja Mba. Terus dari Solo ke Nganjuk, saya disuruh naik bis."

Mba Bunga masuk dalam percakapan kami, "Ibu yakin nanti di Solo ibu ngga bingung gimana nyari busnya?"

"Yaa nanti disana tanya orang lagi Mba. Ya gimana, saya juga gatau apa-apa. Cuma bisa ngandalkan tanya orang."

Mba Bunga pun tersenyum dan merogoh dompetnya. Mengeluarkan selembar 10ribuan dan memberikannya ke Ibu itu.

"Yaudah, Bu. Ibu sekarang pergi ke loket, bilang beli tiket ke Solo sekarang. Saya yang bayarin."

Sang Ibu terlihat berkaca-kaca lalu bergegas ke loket untuk membeli tiket.

"Mba, katanya saya disuruh langsung masuk. Keretanya bentar lagi."

Ibu itu pun menunjukkan tiketnya. Sekitar 20-30 menit lagi.

Mba Bunga kembali mengeluarkan uang dari dompetnya. Selembar 50ribuan.

"Ibu, ini uang buat nge-bis ya Bu, jangan dipake buat yang lain-lain. Nanti kalo udah sampe Solo, tanya, kalo mau naik bis ke Nganjuk harus ke mana."

Sang Ibu hanya bisa berkaca-kaca sembari mengucap terima kasih. Lalu ibu itu bergegas masuk.

Saya yang tadinya pun berniat ingin membantu hanya terdiam. Masya Allah, kalah cepat dalam berbuat kebaikan itu rasanya... :')

"Ya Allah ada ya yang tega ngerobek tas Ibunya. Padahal ada keterbatasan. Kasian Ibunya," kata Mba Bunga pada saya.

Saya pun hanya menganggukkan kepala.

"Tadinya saya mikir ini Ibunya beneran ngga, tapi pas dirasa-rasa, didengerin ceritanya kayanya kok ngga bohong."

"Oiya Mba emang tiket bis Solo Nganjuk berapaan?"

"Oiya ya."

Kami pun mencari harganya di internet. Sekitar 45-50ribu.

"Ya semoga cukup ya uangnya. Dan semoga sampai sana nanti ada yang mau bantu Ibunya lagi."

Saya hanya bisa meng-aamiin-i.

Tepat setelah kejadian itu, nomor antrian saya dipanggil ke loket. Nyaris saja terlewat. Saya pun berpamitan ke Mba Bunga dan bergegas pulang karena harus mempersiapkan perjalanan sore itu ke Jakarta.

Dan siang itu, saya bersyukur. Mengantongi beberapa pembelajaran, belajar dari buku yang saya baca, dan belajar dari apa yang terjadi di sekitar saya.

Pembelajaran, hikmah, sebenarnya terserak di mana-mana. Maka dalam Al-Qur'an seringkali disebutkan, tidakkah kamu berpikir, tidakkah kamu mengamati, dan kata-kata penyadaran lainnya. Maka, berpikirlah. Latih kepekaan akan 'hal-hal kecil bernilai besar' di sekitar kita :)

Kamis, 28 September 2017

Kesempatan dan Penyesalan

Mengutip beberapa kalimat yang saya baca dalam sebuah novel:

"20 tahun dari sekarang, kamu akan lebih menyesali apa-apa yang tidak kamu lakukan daripada apa-apa yang kamu lakukan."

Pernah mendengar kalimat tersebut? Tidak asing bukan? Sebuah kalimat yang saya baca dulu, entah kapan tepatnya. Tapi begitu membekasnya kalimat itu hingga saat ini.

Penyesalan pertama.

Malam ini saya berbincang via online dengan seorang adik yang mengikuti suatu beasiswa yang sebenarnya dulu sangat ingin saya daftar tapi tidak jadi karena ketidak-pede-an saya. Seorang adik super inspiratif yang bahkan di akhir ceritanya ia berkata, "menulis itu bagian dari hidupku mba."

Bercerita panjang lebar tentang beasiswa itu membuat saya sebenarnya menyesal. Mengapa dulu saya tidak mencobanya? Mengapa patah arang sebelum berjuang?

Ah, selalu begitu. Dan ini bukan yang pertama kalinya.

Akan saya ceritakan sedikit tentang beasiswa ini. Namanya beasiswa Aktivis Peneleh. Saya sangat mengingat dulu saya tidak berani mendaftar karena orang-orang yang saya kenal terlihat sangat 'wah' dengan kontribusinya di masyarakat.

Pada kesempatan itu adik itu menceritakan yang penting mencoba dulu dan penuhi saja syaratnya. Dia bercerita bahwa disana ia diajarkan untuk produktif menulis. Ada hak, ada kewajiban. Untuk mendapatkan hak berupa beasiswa, ada kewajiban menulis yang harus ditunaikan. 4 berita, 1 opini per bulan. Menurut saya, betapa beruntungnya, mendapat suatu sistem yang mau tidak mau 'memaksa' untuk menjadikan diri ini produktif untuk menulis. Memaksa, tapi juga melatih kita untuk terbiasa. Dan saya begitu merasakan saat ini. Menulis adalah sesuatu yang wajib dipelajari sejak dini. Wajib. Karena gagasan, pikiran, ide, bisa tersalurkan tanpa dimakan waktu melalui tulisan. Ucapan seringkali akan terlupakan atau bahkan berubah makna seiring pergantian zaman. Tulisan akan mengabadikan semuanya.

Penyesalan kedua.

Berbincang dengan adik itu mengingatkan saya akan orang yang saya kenal dari suatu acara sosmas, penerima beasiswa itu pula di periode sebelumnya.

Saya selalu merasa kagum dengan orang-orang yang bisa berkontribusi lewat ke khasannya, kemampuannya, bidang ilmunya dengan sepenuh hati dan semaksimal yang ia bisa. Dan entah kenapa saya paling kagum dengan orang yang mendalami bidang sosial-masyarakat, walaupun tentu saja orang lain pun hebat dengan kontribusi di bidangnya.

Dan pertama kali saya bertemu orang itu, saya langsung kagum akan bagaimana kesinkronan antara passion dan apa yang sedang ia jalani: tentang bagaimana terjun ke masyarakat. Saya kagum dengan keluwesanya berbincang dengan staf dan peserta dalam acara tersebut. Mengalir saja. Sebagai orang yang hanya menilai dari luar dan hanya sebatas kenal sebentar saja, saya bisa merasakan bahwa ia menikmati dunianya. Dan sepanjang acara itu, saya benar-benar mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang bagaimana terjun ke masyarakat. Mungkin kata orang, "apa yang disampaikan dengan hati, kan masuk ke hati." Dan mungkin karena panitia melaksanakan acara itu sepenuh hati, maka materi yang diberi masih berkesan hingga saat ini.

Lalu, setelah acara itu berakhir, ada sebuah acara besar lagi yang diadakan. Temanya sama, tentang sosmas. Bertepatan dengan hari raya Idul Adha dan dilaksanakan di sebuah desa di Yogyakarta. Tadinya, saya sudah benar-benar akan mengikutinya. Bahkan sudah membayar biaya pendaftaran. Saya sudah membayangkan bagaimana serunya terjun ke masyarakat bersama teman-teman lain. Tapi Qadarullah, yang lebih berhak untuk dipenuhi baktinya meminta saya untuk pulang; orang tua. Akhirnya saya yang harus membatalkan keikutsertaan saya di acara tersebut. Hanya bisa coba ikut serta dengan biaya yang sudah dibayarkan dan tidak mengambilnya kembali, karena keinginan untuk ikut itu masih ada. Bahkan hingga saat ini.

Malam tadi saya melihat video acara tersebut dan rasanya.. Yaa mau bagaimana lagi, terlanjur sudah tidak ikut. Dan yang lalu ya sudah berlalu, tidak bisa diulang lagi 

Penyesalan ketiga.

Semangat ingin terjun ke masyarakat itu masih tetap ada. Ya, sejak awal saya ingin berkontribusi di bidang Pengabdian Masyarakat/Sosmas di organisasi. Kesempatan pertama kali, saya mencoba mendaftar di BEM Fakultas. Ditolak. Baiklah. Coba kesempatan lain.

Kesempatan kedua, saya mencoba mendaftar PM di sebuah organisasi mahasiswa kesehatan nasional di tingkat regional Jogja. Alhamdulillah diterima. Ternyata, melakukan hal yang sesuai dengan minat memang sangat menyenangkan :')

Di organisasi itu, sungguh saya merasa sangat senang. Merasa sangat beruntung. Hingga saat pergantian kepengurusan, saya dilobby untuk menjadi kepala divisi PM. Ya Allah, seolah mimpi untuk berkontribusi makin terbuka lebar. Namun, saat itu, di saat yang bersamaan, amanah sebagai bendahara di satu organisasi dan juga amanah sebagai sekretaris di organisasi lainnya, baru saja saya pegang. Amanah bendahara yang sebelumnya sudah saya coba untuk tolak karena sudah diamanahi sebagai sekretaris di organisasi lain ternyata tidak berhasil untuk dialihkan ke orang lain, forum tetap berkata demikian. Bila bisa saya memilih sejak awal, sepertinya saya akan lebih memilih untuk berkontribusi di PM ini dibandingkan dengan bendahara dan sekretaris itu. Namun sayang, kesempatan ini datang belakangan.

Maka dengan berat hati saya memutuskan untuk tidak menerima dan tidak bisa aktif lagi di PM untuk mengemban 2 amanah lainnya. Rasanya melepas apa yang disukai itu berat. Tapi daripada apa yang disukai itu menjadi buruk karena diri ini yang tidak maksimal, saya memilih untuk melepaskan. Dan..apa ya...rasa berat itu, menyesalnya, bahkan terbayang hingga sekarang.

Penyesalan keempat.

Dan di tahun akhir, saya kembali ditawarkan sebuah kesempatan untuk berkontribusi bersama di bidang kemasyarakatan di suatu organisasi mahasiswa. Hanya saja lingkupnya agak berbeda dengan yang lalu. Bila sebelumnya menjadi orang yang langsung terjun ke masyarakat lewat tindakan nyata, maka kali ini terjun dengan risetnya. Ya Allah, sebenarnya betapa ingin diri ini mengiyakan. Tapi, pesan orang tua selalu terkenang, "Ndak usah ambil amanah apa-apa lagi, Dek. Fokus skripsian aja."

Berat? Berat. Apalagi ini adalah yang kesekian kalinya. Seolah diberi kesempatan lagi, tapi sekali lagi, tidak bisa mengambilnya :')

Maka kali itu, untuk kesekian kalinya, saya menolak dan mencoba menyarankan orang lain yang lebih berpengalaman. Bukan karena saya tidak ingin, tapi ada pesan orang tua yang berat untuk tidak dilaksanakan.
Saat ini, terkadang saya merasa menyesal mengapa tidak mengiyakan. Tapi di sisi lain, bila mengiyakan, saya pun tidak tau akan menjadi seperti apa diri saya sekarang.

Hari ini, belum mencapai 20 tahun dari kejadian, dan begitu banyak penyesalan. Saya tahu, hal ini bukan untuk dikeluhkan ataupun disesalkan. Tapi begitu sulit mencari padanan kata yang lebih tepat selain kata menyesal. Hanya sekadar berbagi pengalaman, tentang apa-apa yang justru tidak bisa saya lakukan padahal saya inginkan. Dan saya berkaca, itu karena ketidakbisaan saya berkata tidak untuk apa yang tidak saya inginkan.

Maka bila kalian mendapat kesempatan, perhitungkan matang-matang. Bila tidak sesuai dengan yang kalian inginkan dan masih ada yang bisa kalian kejar, jangan ragu untuk berkata tidak pada yang tidak kalian inginkan. Jangan sampai 'iya' pertama yang 'terpaksa' justru memunculkan 'tidak' di kesempatan lain yang sebenarnya kalian inginkan dan memunculkan penyesalan-penyesalan.

Memang tidak ada yang sia-sia dalam hidup dan pastinya setiap keputusan yang kita ambil dahulu, telah berhasil membentuk kita yang sekarang.
Tapi untuk ke depan, cobalah untuk merencanakan. Melihat langkah-langkah apa yang kita butuhkan, langkah-langkah apa yang kita harus lakukan, untuk membentuk diri yang kita inginkan ke depan.

Perhitungkan matang-matang tiap keputusan, Kawan. Apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya dilakukan. Apa yang sebaiknya dan tidak sebaiknya diterima. Apa yang sebenarnya dan tidak sebenarnya kalian ingin untuk lakukan. Rencanakan. Jangan sampai 20 tahun dari sekarang penyesalan itu datang :)

Kamis, 07 September 2017

Berat atau Tidak Bergantung Niat

Pagi kemarin saya bercerita kepada seorang teman tentang sesuatu yang saya rasa begitu sulit untuk dilakukan. Saya menanyakan apa yang sebaiknya saya lakukan.

Dan ternyata kami memiliki masalah yang tidak jauh berbeda. Maka tidak ada penyelesaian yang berarti, hanya berujung saling bertukar cerita.

Dan sore ini, kontan, Allah membantu saya untuk menjawabnya. Lewat konteks yang berbeda.

Semuanya bergantung niat.

Saya kembali diingatkan tentang itu.

Ringan atau beratnya sesuatu untuk dilakukan atau tidak dilakukan bergantung seberapa kuat niat kita untuk melakukan atau tidak melakukannya. Bergantung pada seberapa kuat niat kita untuk memulai atau tidak memulainya kembali. Bergantung seberapa kuat niat kita untuk menjalankan apa yang kita niatkan.

Selalu terkesan dengan cara-Nya mengingatkan saya lewat hal-hal yang tidak terduga. Selalu ada jalan yang 'unik' untuk-Nya mengingatkan hamba-Nya.

Sesederhana saya menyadari hari ini bahwa ketika puasa diniatkan maka terasa ringan dan bila terlupa untuk diniatkan akan terasa berat.

Dan ternyata mungkin dari situlah Allah ingin mengingatkan saya tentang niat.

Bahwa ketika meniatkan untuk meninggalkan keburukan jangan setengah-setengah.

Bahwa ketika meniatkan untuk melakukan kebaikan pun jangan setengah-setengah.

Karena justru ke'setengah-setengah'an itulah yang seringkali membuat berat pelaksanaan. Seolah belum yakin tentang apa yang dilakukan sehingga sangat mungkin untuk terhenti di tengah jalan.


Yap. Kuncinya sudah ditemukan. Perbaiki, catat benar-benar dalam hati, kuatkan niat.

Pengingat Diri

"Yang tidak bisa disampaikan dengan lisan, bisa disampaikan dengan tulisan.
Tapi yang bahkan tidak bisa disampaikan dengan tulisan, semoga bisa tersampaikan lewat doa yang diam."

"Memilih untuk melakukan mungkin akan terasa menyenangkan. Tapi perlu diingat bahwa penyesalan selalu datang belakangan.
Mencoba teguh terhadap prinsip yang selama ini dipegang mungkin tidak mudah. Tapi semoga bisa menjadikan segalanya lebih barokah."

Sekadar pengingat untuk diri yang masih terus belajar, belajar dan belajar. Mencoba menahan, mencoba memilih dan memilah, mana yang boleh dan tidak boleh, mana yang patut dan tidak patut untuk dilakukan sekarang, mana yang ahsan/yang baik dan mana yang tidak.
Sudah terlalu banyak kekurangan, terlalu banyak khilaf-khilaf tidak beralasan, terlalu banyak celah yang harus diri ini tambal.

Masih jauh, sangat jauh dari kata baik, tapi inilah yang namanya berproses, bukan?

Tidak mudah.
Jatuh bangun. Niat yang naik turun. Lelah untuk membujuk diri. Ingin menyerah saja rasanya. Tidak jarang nyaris kembali ke kondisi yang sama. Tidak bisa dengan serta merta bisa berubah. Rasanya sulit sekali untuk istiqomah.
Butuh waktu, butuh kesabaran, bahkan tidak jarang pengorbanan.

Dan jangan coba disamakan, proses yang seseorang tempuh, ketika cara pandang tiap orang terhadap suatu hal pun berbeda-beda.

Teringat beberapa kalimat yang cukup menusuk bagi saya,
"Seseorang terlihat baik bukan karena ia memang sudah baik. Tapi karena Allah menutupi aib-aibnya.
Bila Allah membukanya, niscaya orang-orang akan enggan mendekat dan mengenali."

Maka, "bila kalian mengenalku sebelum hijrahku, bantulah aku menutupi aib-aibku."

Dan untuk diri ini, saat futur itu datang, ingat lagi:

Ridho Allah nomor satu. Ridho Allah nomor satu. Ridho Allah nomor satu.

Saat mulai tergeser, ingat lagi:
Allah. Allah. Allah.

Maka lakukan semua dengan cara yang Allah suka, hindarkan cara-cara yang Allah benci. Sesulit apapun itu. Seberat apapun untuk dilakukan.
Yuk, belajar.

*Hanya sebuah catatan sederhana sebagai pengingat. Harapannya bisa menjadi pengingat bagi diri bila nanti futur datang menghampiri bahwa saya pernah menuliskan ini*

Sabtu, 02 September 2017

"Kapan?"

sumber gambar: google

Layaknya mahasiswa akhir pada umumnya, pertanyaan 'kapan' sepertinya menjadi pertanyaan yang seringkali diajukan oleh setiap orang yang ditemui.
"Kapan lulus?"
"Kapan wisuda?"
"Kapan nikah?"
"Kapan balik kampung?"
"Kapan kerja?"
dan serentet pertanyaan kapan lain yang tidak akan ada habisnya walaupun kamu sudah berhasil menjawab pertanyaan kapan sebelumnya. Dan saya lelah dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Apalagi bila ada embel-embel 'udah pantes'. Rasanya tu gemes gimana gitu sama yang tanya wkwk.

Mbok yo wes to.
Tiap orang punya rencana hidupnya masing-masing. Tiap orang berjalan di zona waktunya masing-masing. Jadi tidak usah membandingkan orang yang satu dengan orang yang lain. Tidak usah membandingkan Si A dengan si B, si B dengan si C. Jangan membandingkan seseorang yang belum memperoleh A dengan orang yang sudah memperoleh A. Jalan orang tu masing-masing. Tidak perlu lah dibanding-bandingkan. Rezeki sudah ada yang mengatur. Semua yang terjadi bahkan sudah dituliskan oleh-Nya jauh sebelum kita ada. Jadi tidak usah terlalu mencampuri urusan orang lain dan dengan semangatnya mencecarnya dengan pertanyaan "kapan"  bila memang tidak bermaksud membantu atau benar-benar menanyakan alias hanya iseng saja. Tolong.

Masing-masing dari memiliki waktu yang berbeda untuk mengalami ataupun tidak mengalami sesuatu. Memiliki rencana yang berbeda untuk mengambil atau tidak mengambil suatu pilihan di umur yang mungkin sama. Silakan menjalani hidup masing-masing.

Bukan berarti tidak mempedulikan, hanya mencoba menghormati pilihan yang diambil orang. Setiap orang memiliki life plannya masing-masing. Cobalah untuk tidak menambah beban pikiran yang, mungkin, bagi orang lain memang belum untuk dipikirkan. Pantas atau tidak, siap atau belum, bukan orang lain yang menentukan. Diri kita masing-masing lah yang merasakan. Orang lain boleh memberi saran, tetapi diri kita yang pada akhirnya akan merencanakan "kapan"-"kapan" itu terjadi dalam hidup kita. Dan Allah lah yang memutuskan kapan waktu yang tepat bagi pertanyaan "kapan" untuk terjawab.

Jadi, tolong. Berhentilah bertanya "kapan" bila memang tidak diperlukan. Insya Allah semua akan terjadi pada waktu yang tepat, pada saat yang terbaik menurut-Nya :)

Jumat, 30 Juni 2017

Masa Mau Menyalahkan Setan?

Ketika bulan dimana setan dibelenggu sudah berlalu, dimulailah bulan baru. Kembali fitri katanya. Senang, bertemu sanak saudara, kawan-kawan lama.

Tapi kemudian, ada yang justru seringkali terlupakan.

Kemanakah tilawah-tilawah bersemangat bulan lalu?
Kemanakah ziyadah-murojaah penuh perjuangan sebulan itu?
Kemanakah solat-solat malam dengan sujud panjang penuh harap akan dikabulkannya doa dan ampunan?
Tidak ingatkah hari-hari terakhir dimana kamu menangis berharap amalmu selama bulan itu diterima?
Tidak ingatkahhari-hari terakhir dimana kamu menangis sedih melihatnya baru akan kembali setelah melewati 11 bulan lagi?

Hari-hari terakhir di bulan itu, ketakutanmu memuncak.

Takut apa yang telah dikerjakan bulan itu tak dapat kamu istiqomahkan 11 bulan ke depan. Takut menjadi orang yang merugi atau bahkan celaka karena hari berikutnya lebih buruk dari hari sebelumnya, bulan berikutnya lebih buruk dari bulan sebelumnya. Takut ketika bertemu dengannya lagi, kamu hanya sanggup mencanangkan target tahun lalumu. Tak ada peningkatan.

Akan tetapi, justru saat memasuki bulan baru, kamu lupa akan segala ketakutan-ketakutanmu di bulan itu. Kamu lupa akan janji pada dirimu untuk mengistiqomahkan amalanmu. Kamu terlena dengan segala macam suasana dan hiruk pikuk bulan baru.

Apa itu yang kamu mau?
Ketika ditanya kenapa, apa iya kamu akan menjawab, "Saat bulan itu, setan dibelenggu, jadi saya bisa maksimal ibadah. Di bulan lain, setanlah yang mnejerumuskan saya hingga saya lalai akan ibadah-ibadah saya."

Dan kemudian timbul pertanyaan besar,
Apa iya itu salah setan?
Ah, bahkan mungkin setan pun tak salah. Dia bahkan telah mendapat ACC untuk menggoda manusia hingga akhir zaman. Maka dia berusaha semampunya untuk melaksanakannya.
Justru kamulah yang patut dipertanyakan. Harusnya kamu mampu melawan. Bukan malah menyalahkan. Ketika setan berusaha semampunya, kamu pun harus berusaha semampumu, sekuat yang kamu bisa untuk menangkal godaannya.

Ah, kamu, manusia selalu begitu. Lebih mudah melemparkan kesalahan daripada mengakuinya.

Masa iya semua ini salah setan?

Lalu apa yang harus kamu lakukan?
Kencangkan ikat pinggangmu. Seburuk-buruk keadaan, mari coba istiqomahkan apa yang telah dilakukan di bulan Ramadhan. Itu adalah seminimal-minimal upaya. Bedanya, kali ini ditambah dengan sedikit bumbu-bumbu godaan setan.
Mungkin akan terasa lebih berat. Tapi patut untuk diperjuangkan.

Yuk bangkit!

*hanya mencoba berdialog dengan diri sendiri*

Senin, 05 Juni 2017

Cerita tentang Seorang Teman

Setiap orang memiliki orang-orang istimewa dalam hidupnya. Setiap orang memiliki orang yang bisa mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Pun dengan saya. Allah begitu baik, bersedia mempertemukan saya dengan orang sepertinya. Dan saya belajar banyak hal dalam waktu yang bisa dibilang singkat ini. Mengubah banyak hal dalam diri saya lewat perantara nasihatnya.

Saya mengenalnya belum lama, masih dapat terhitung jari, bahkan hanya dengan satu tangan saja. Saya tak akan menyebutkan namanya. Cukuplah kebaikannya yang semoga bisa menginspirasi banyak orang.

Ia adalah orang yang begitu amanah menjalankan apa yang telah dipercayakan padanya. Terkadang, ia bercerita akan beratnya amanah yang ditanggungnya. Namun kemudian, ia masih menjalankannya semampunya, semaksimal yang ia bisa. Ketika kemudian amanah yang baru datang, pun sebenarnya ia berat. Saya mengetahui latar belakangnya dari apa yang ia ceritakan. Dan memang, bukan hal yang mudah untuk menerima amanah baru dalam kondisi yang demikian. Akan tetapi, ia tak mengkhianati kepercayaan orang-orang di sekitarnya. Ia mencoba menjalaninya dengan sebaik mungkin. Saya yakin, lelah pasti ia rasakan. Kadang ia berkata lelah saat bercerita pada saya, tapi ia tidak memperlihatkannya saat kembali menjalankan amanahnya, tetap mencoba bergerak dan tersenyum. Ia tidak ingin orang-orang di sekitarnya menjadi lelah karena lelah yang ia rasakan.

Saya yang saat itu juga sedang beramanah pun belajar banyak darinya. Bagaimana ia tidak mengeluh di depan teman-teman satu amanah. Bagaimana ia tetap menjalani padahal kondisinya jauh lebih rumit dari kondisi saya. Bagaimana ia mencoba menyatukan orang-orang dalam organisasinya. Bagaimana ia malah menyemangati saya, padahal ia yang lebih butuh untuk disemangati. Begitu banyak yang saya pelajari tentang bagaimana menyikapi suatu amanah.

Ia adalah orang yang begitu sayang dan disayang oleh keluarganya. Begitu seringnya orang tua menanyakan kabarnya dan tidak jarang pula ia memberi kabar pada orang tuanya.
Darinya, saya belajar untuk lebih memperhatikan keluarga saya. Sebelum ini, saya bukanlah orang yang sering mengabari orang tua ketika ada yang terjadi dalam hidup saya. Hanya hal-hal tertentu yang saya kabari. Orang tua saya cenderung membebaskan anaknya untuk memilih jalan hidupnya, tidak mengekang. Maka saya terbiasa tanpa memberi kabar. Tapi darinya, yang selalu memberi kabar ataupun ditanyai kabar oleh orang tuanya, saya belajar. Orang tua sebenarnya ingin tahu keadaan anaknya. Maka perlahan saya mulai sering mengabari orang tua saya, hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup saya, apa yang saya rasakan, dan sebagainya. Kini saya merasa bisa lebih terbuka untuk bercerita kepada kedua orang tua saya.

Ia adalah orang yang tak hentinya membuat saya belajar lewat cerita-ceritanya, lewat kesehariannya, dan lewat nasihat-nasihat yang ia berikan pada saya. Selalu memberi semangat ketika saya lelah, ketika saya malas, dan ketika saya tidak menjadi diri saya yang biasanya. Selalu mengingatkan bila salah, membuat saya tergerak untuk menghapus foto-foto saya di media sosial, lebih berhati-hati, dan mengisi media sosial dengan hal yang lebih manfaat. Selalu mengingatkan untuk mengingat-Nya, mengingatkan bahwa takdir-Nya adalah yang terbaik, mengingatkan bahwa semua punya waktunya masing-masing.

Saya bisa merasakan, ia mencoba mengubah dirinya menjadi lebih baik dari ia di masa lalu. Masa lalunya mungkin belum baik, tapi ia tidak hentinya berusaha mengubah dirinya menjadi lebih baik. Selalu tak henti belajar menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi. Hal itulah yang membuat saya juga ingin mengubah diri saya menjadi lebih baik. Mencoba menambal saya yang kurang di masa lalu dan menjadikan diri saya lebih baik dari hari ke hari. Bila ia bisa, kenapa saya tidak? :)

Maka, untukmu, teman yang sudah begitu banyak mengubah diri saya dalam beberapa tahun ini, terima kasih banyak. Semoga Allah membalas kebaikanmu dengan kebaikan yang jauh lebih baik. Saya mungkin tidak bisa membantu banyak, tidak bisa menyemangati, tidak bisa menjadi teman yang selalu ada saat kamu membutuhkan orang untuk bercerita, dan tidak bisa melakukan banyak hal untukmu. Kita sudah menyepakati untuk menempuh jalan kita masing-masing. Bukan, bukan karena benci, tapi justru sebaliknya. Bukan berarti kita tidak lagi berteman, tapi kita sama-sama paham. Dan pada akhirnya, kita lebih memilih untuk mementingkan-Nya.

Pertemanan yang sejati bukanlah tentang seberapa sering kita berjumpa dan seberapa sering kita menghabiskan waktu bersama. Bagi saya, pertemanan yang sejati, yang hakiki, ialah tentang seberapa sering namanya terucap dalam doa yang diam, dalam tiap sujud yang panjang :)

Minggu, 14 Mei 2017

Merawat Pertemanan

"Apa kabaar?"
"Oy, Piye kabaree?"
"Semangaat!"

Sering merasa saya tiba2 nge PM, chat, atau DM gitu? Wkwk
Maaf ya saya emang suka kadang absurd nge chat. Ndak ada apa-apa kok, dan ndak usah menanggapi atau berpikir berlebihan. Perempuan ataupun laki-laki sama-sama saya begitukan. Bukan apa-apa. Saya cuma pengen tau keadaan temen-temen saya wkwk

Ketika saya tanya begitu, berarti saya menganggap Anda teman saya. Karena bagi saya teman ya sebisa mungkin tau keadaan temannya, baik tanya langsung ataupun tanya orang lain :)
Saya kadang ditegur juga kenapa kok begitu. Tapi ya gimana, bagi saya kalo temen ya menanyakan kabar. Kalau sama laki-laki, ya saya mencoba ndak berlebihan. Kalo cerita ya ditanggapi. Ada masalah beri saran. Tetap mencoba secukupnya dengan gaya ala saya.

Kadang ditanya juga, kenapa kalo nge chat gitu sering banget pake emot?
Lah saya emang gitu, sama siapa aja wkwk. Kalo chat emang kebanyakan emot dan kebanyakan ketawa mulu. Pake emot banyak ndak berarti apa-apa kok. Kebiasaan hehe.
Dari dulu saya jarang menganggap seseorang lebih dari temen kok, jarang baper, jadi selo wae kalo saya chat. Bagi saya, temen ya temen. Temen disini dalam artian temen biasa ataupun temen deket. Jaraaang banget anggep orang lebih dari itu. Mentok-mentoknya seseorang yang saya sebut temen, saya anggep kek saudara sendiri wkwk

Terus kenapa sih suka ngasih hadiah?
Wkwk iya ya? Saya suka absurd ngasih hadiah emang. Bahkan temen saya sampe bilang, "Kom, kamu siapa2 dikasih hadiah. Siapa2 kamu bilang temen deket." wkwkwk kadang saya juga bingung sih apa definisi temen atau temen deket dan siapa sih yang pantes dikasih hadiah.
Kalo ditanya kenapa, ya jawabannya ndak apa. Pengen aja. Saya suka buat2 sesuatu untuk temen-temen saya.
Kurang kerjaan banget sih? Bagi saya itu ndak kurang kerjaan kok hehe. Saya suka buat sesuatu untuk orang lain, itu hobi. Suka aja buat kerajinan tangan. Selain suka, menurut saya, ketika ngasih orang dan itu dibuat sendiri, sesuatu itu bakal lebih berkesan *eaa

Dan bagi saya wajar aja ketika saya baru kenal seseorang dan saya merasa saya merasa nyaman atau klop sama orang itu, dapet banyak pelajaran dari ceritanya, dsb, saya ngasih sesuatu buat orang tersebut. Itu masih dalam batas kewajaran saya walaupun orang-orang kadang mengartikannya ndak wajar. Saya suka aja kalo orang seneng sama apa yang saya kasih. Kalo apa yang saya kasih bisa manfaat. Karena siapa tau umur saya ndak panjang kan? Siapa tau. Jadi saya pengen di umur saya yang entah akan sampai kapan ini, kemanfaatan selama saya hidup bisa berumur panjang. Pertemanan-pertemanan ini bisa berumur panjang, bahkan sampai ketika saya ndak ada.


Merawat pertemanan itu ndak gampang. Kadang lupa tanya kabar dianggap sombong. Tapi tanya2 kabar dikira sesuatu yang lain, dikira berlebihan, dikira ada apa-apa. Duh, pusing yak wkwk

Setiap orang punya caranya sendiri untuk merawat pertemanan. Pun begitu dengan kalian. Pun begitu dengan saya. Jadii ndak usah baper atau anggep berlebihan suatu perlakuan yak. Emang gini cara saya merawat pertemanan saya. Dengan tanya kabar, dengan kasih hadiah, dengan dateng ke momen-momen di hidup kalian, dengan nyempetin ketemu, dan dengan menyisipkan nama kalian dalam doa. Walaupun seringkali saya ndak tau apakah temen yang saya anggep temen menganggap saya temennya atau bukan, saya akan tetep perlakukan kalian kaya temen saya kok hehe. Dan walaupun saya juga ndak tau doa saya mustajab ndak, tapi siapa tau kan diantara sekian doa, doa yang ini 'kebetulan' dikabulkan :)

Pertemanan itu susah susah gampang dijaganya. Dan tiap orang punya caranya masing-masing untuk menjaga pertemanan itu. Saya dengan cara saya dan Anda mungkin dengan cara Anda. Bukan berarti caranya dibebaskan sebebas-bebasnya. Tetap perlu ada batasan.

Maka bila Anda tahu saya berlebihan, silakan ingatkan. Karena saat itulah pertemanan justru akan makin berharga. Ketika temannya salah, maka ia mengingatkan, bukan ragu berkata lalu membiarkan. Teman yang baik akan mengajak untuk sama-sama berjalan ke arah perbaikan :)

Rabu, 10 Mei 2017

Cerita Dini Hari

"Mii.."
Pesan terkirim. Hape mati. Listrik mati. Fix bye~
Saya beranjak meninggalkan hape saya dan bercerita banyak dengan 2 teman saya.

Dini hari, saya baru membaca pesan balasan dari Ummi.
"Apa deek"
"Ada apa dek?"
*misscall*

"Mi maaf kemarin hapenya mati terus tak tinggal buat di charge."
"Ada apa dek? Terus Hp nya kenapa?"
"Ngga kenapa-kenapa Mi hapenya wkwk. Tadinya tadi malem mau nelpon ajaa."

Ummi calling..

"Kenapa dek?"
"Gapapa mi cuma mau cerita skripsi hehe"
*diam sebentar*
"Mi kalo misal lulusnya ngga tepat waktu gimana ya? Kalo gabisa kekejar Agustus?"
"Ya gapapa ngga tepat waktu."
"Tapi temenku dah pada lulus, dah pada koas Mi."
"Ya ngga papa, kan semua orang punya waktunya masing2, Dek."

*mulai sedih sendiri*
"Maaf ya mi, kalo ngga bisa wisuda Agustus dan bisanya ngusahain wisuda November. Masih diusahain, masih berusaha nyusun proposal sama nemuin dosen juga."
Kemudian, saya menjelaskan kondisi saya saat ini.

"Iya ngga papa. Yang penting kamu tekun, ulet, pantang menyerah, sabar."
"Misal mau nemuin dosen nunggunya lama ya sambil baca Al-Qur'an atau dzikir atau baca buku. Jangan sampai waktunya terbuang sia-sia cuma buat nungguin. Jadi nanti pulang tetep dapet sesuatu walaupun ngga ketemu dosennya.

Allah tu ngeliat usaha kita, Dek, bukan hasilnya. Jadi ya apapun yang terjadi, tetep berusaha. Tunjukkin ke Allah kalo kamu serius ngerjainnya.

Kalo dosennya jutek, ya disenyumin aja. Berdoa supaya dosennya dilunakkan hatinya. Kan Allah yang Maha Membolak-balikkan Hati. Dulu, Ummi juga dapet dosen yang susah. Ditemuin susah. Kalo ketemu ndak senyum. Tapi ya Ummi tetep senyum, tetep usaha nemuin.

Karena susah ditemui di kampus, Ummi akhirnya ke rumahnya. Kata Mbak yang di rumahnya, dosennya lagi istirahat.  Ya Ummi tungguin di depan rumah sampai bangun. Pas itu Ummi lagi hamil 9 bulan. Ya ngga papa, Ummi tungguin.
Terus akhirnya dosennya luluh juga hatinya. Habis itu jadi gampang ditemuin. Jadi senyum kalo ketemu. Urusannya juga jadi cepet diurus. Akhirnya bisa sidang dan wisuda juga.

Nggarap skripsi itu ngelatih mental dek. Yang mentalnya ngga kuat, bisa jadi gugur disini. Ngga jadi sarjana. Dulu Bulik juga hampir ngga mau nyelesein skripsi karena dosennya susah. Ummi bilang harus diselesein. Ummi nyemangatin. Mau gamau, suka ngga suka, harus nemuin dosennya. Mbah juga nyuruh buat nyelesein. Akhirnya selesai juga.
Mas Hanief juga, Alhamdulillah udah mau selesai. Udah mau sidang. Insya Allah wisuda Agustus besok. Yang penting ulet, tekun."

*saya diam lagi*

"Mi doain aku ya,'" kata saya dengan perasaan yang sudah campuraduk.
"Iya, Ummi pasti doain satu-satu, buat Mas Husain, buat Mas Hasan, buat Mas Hanief, buat Dek Isti.
Yaudah, yang sabar, yang ulet, pantang menyerah. Ndak papa, semua ada waktunya sendiri-sendiri."

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pagi tadi, saya tidak bisa berkata apa-apa, cuma bisa diam.
Kami berada di kampus yang sama, fakultas yang sama, jurusan yang sama.
Hanya saja, waktu kami berbeda. Keadaan kami pun berbeda.

Perjuangan Ummi jauh lebih berat. Dosen susah, posisi sudah berkeluarga, hamil 9 bulan pula. Begini saja saya sudah merasa berat, apalagi Ummi, yang juga harus menyusuri jalan dan warung-warung di Jogja untuk menitipkan makanan bersama Bapak, entah bakwan, entah jajanan, entah apapun itu, guna mencukupi biaya hidup keluarga. Sedangkan saya, keadaan saya jauh lebih baik.

Dini hari tadi membuat saya berkata pada diri saya, "Ah, perjuangan saya belum ada apa-apanya" :')
Baru sekadar naik turun 4 lantai setiap harinya dan menunggu sejak pukul 7/8/setiap selesai kuliah hingga maksimal pukul 5 sore. Apalah itu dibanding wanita mengandung 9 bulan yang juga harus sabar dan ulet mengerjakan segalanya :')

Minggu, 27 November 2016

Saat meng-iya-kan bermakna meng-ikhlas-kan
Saat meng-iya-kan bermakna mengubur dalam-dalam
Saat meng-iya-kan bermakna untuk berhenti mengharapkan
Dan saat meng-iya-kan 'bisa jadi' berubah makna menjadi melupakan

Akankah diri ini benar-benar bisa melakukan?

-hanya sekumpulan pertanyaan yang coba kuajukan pada diri sendiri-

Di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, 27 November 2016

Sabtu, 27 Agustus 2016

Arti Sebuah Nama


Aku sering mendengar orang berkata "apalah arti sebuah nama".
Hmm bagi sebagian orang, mungkin nama tidak memiliki arti yang begitu signifikan bagi dirinya.
Tapi bagiku, justru nama menjadi hal yang sangat berpengaruh signifikan dalam hidupku :)

Namaku Kurnia Istiqomah.
Sepahamku:
Kurnia berarti karunia, anugerah. Istiqomah -sebenarnya aku sulit untuk menerjemahkan kata ini, mungkin- berarti komitmen, melakukan secara terus menerus.
Aku sendiri belum pernah menanyakan apa sebenarnya arti namaku ini pada kedua orang tuaku.

Terkadang aku mencoba menerka apa sebenarnya arti namaku itu bila digabungkan.
Apakah karunia yang terus menerus?
Atau karunia berupa ke-istiqomah-an?
Atau apa?
Entahlah, mungkin esok lusa aku akan menayakannya.

Aku sadar, sepertinya namaku 'pasaran', dalam artian ketika kalian mengetik kata kunci 'kurnia istiqomah' di Google, akan banyak bermunculan orang-orang dengan nama yang sama sepertiku.
Akan tetapi, ada satu poin yang sangat aku pegang teguh. Nama adalah doa. Bagiku, nama yang orang tua berikan adalah doa terbaik mereka untuk anak-anak mereka. Dan akhir-akhir ini aku sering berpikir, sudahkah aku menjadi seperti apa yang orang tuaku harapkan saat mereka memberiku nama ini? Sudahkah aku menjadi sebuah anugerah bagi mereka? Atau malah masih sangat jauh dari kata itu? Sudahkah aku menjadi seorang yang istiqomah dalam kebaikan? Atau malah masih malas-malasan dalam melakukannya?

Seringkali aku berkaca pada diriku sendiri. Sudahkah pantas nama itu aku sandang?
Menjadi suatu 'anugerah' bagi orangtua dalam bayanganku adalah seorang anak yang bisa membahagiakan orang tuanya, selalu ada di saat mereka membutuhkan, taat dan patuh pada mereka.
Lalu aku bertanya, sudahkah aku menjadi seorang yang seperti itu?
Menjadi orang yang 'istiqomah' dalam bayanganku adalah orang yang selalu melakukan kebaikan secara terus menerus dan berulang, tak kenal lelah, tak kenal kata menyerah dalam melawan kemalasannya untuk berbuat kebaikan. Padahal bagiku, istiqomah adalah suatu hal yang begitu sulit untuk dilakukan. Butuh keberanian untuk melawan kemalasan dan memotivasi diri sendiri untuk bisa istiqomah dalam kebaikan. Memulai dan melakukan kebaikan itu mungkin mudah, tapi bagaimana istiqomah dalam kebaikan, itulah tantangannya.
Lalu aku pun bertanya kembali pada diriku sendiri, sudahkah aku menjadi seorang yang seperti itu?

Entahlah, bila kubilang, aku kurang sepakat dengan perkataan 'apalah arti sebuah nama'. Karena bagiku, seringkali nama justru menjadi pusat introspeksi diriku. Sudahkah aku seperti ini, sudahkah aku seperti itu, hingga kadang aku pun merasa berat dengan nama yang orang tuaku berikan. Akan tetapi aku sadar, justru dari sanalah aku mulai berangkat memperbaiki diri. Memantaskan diri untuk menjadi seperti apa yang orang tuaku doakan saat memberiku nama ini, Kurnia Istiqomah. Nama yang sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam bagiku.

Baiklah, itu sedikit tentangku dan namaku. Lalu bagaimana dengan nama kalian? Sudahkah kalian tahu artinya? Sudahkah doa orang tua kalian lewat nama kalian itu tercapai?
Hmm, sepertinya setiap nama memang istimewa. Tinggal bagaimana kita sebagai pemilik nama memaknainya :)

Sabtu, 26 Desember 2015

Ternyata menuliskan sesuatu tidak hanya tentang menjadikannya bisa dibaca 'orang lain'. Tapi justru tentang menjadikannya memori dan pelajaran yang bisa 'diri sendiri' baca kembali. Ada detil-detil kecil yang kembali kita ingat yang mungkin tidak kita sadari dan bahkan sudah kita lupakan. Ada hal-hal yang sebenarnya sangat mengubah diri kita tapi seringkali terlupakan. Seringkali kita terlupa untuk berkaca kembali pada masa lalu, untuk setelah itu kembali dan mensyukuri apa kita sekarang dan kemudian menata masa depan. Atau bahkan terlupa bahwa sampai sekarang kita masih belum mengucapkan terima kasih untuk orang-orang yang telah berjasa mengubah dan menginspirasi kita serta selalu setia menemani langkah kita di masa yang telah lalu.

Hmm menulis itu menarik, hanya saja masih harus belajar untuk membahasakan apa yang ada dalam pikiran agar bisa diceritakan dengan lebih rapi dan menarik :)
Ya, tidak apa bila sekarang belum bisa. Akan tetapi, tidak ada kata terlambat untuk memulai dan tidak ada kata terlambat untuk belajar. 
Untukku yang mungkin belum bisa dan belum terbiasa untuk menulis, semangat untuk berproses menjadi lebih baik :)

It's alright to be yourself. But, please be better everyday Isti :))

Sabtu, 05 Juli 2014

Hati VS Pikiran

Apa sih yang akan kamu lakukan saat orang yang kamu kagumi mengajakmu berjabat tangan? Langsung menyambut tangannya? Atau malah sekalian minta tanda tangan?

Mungkin itu reaksi yang spontan saat orang bertemu dengan seseorang yang ia kagumi. Ya, itu juga yang aku rasakan. Apalagi ketika orang itu dengan ramahnya mengulurkan tangan untuk bersalaman. Ingin rasanya menyambut tangan itu. Itu kata hatiku.
Tapi...ketika orang yang kita kagumi adalah lawan jenis kita, bukan mahram, dan ia mengajak bersalaman, akankah kita menyambut tangan itu? Dilematis memang. Mungkin bagi sebagian orang iya, tapi ada juga sebagian orang yang berkata tidak. Aku termasuk yang berkata tidak. Kecewa kah ketika tidak dapat berjabat tangan dengan orang yang kamu kagumi? Jawabku: "IYA, sangat". Itu kata hatiku. Ya jelas saja kecewa. Bayangkan saja, orang yang kamu kagumi ada di hadapanmu, bahkan mengajakmu berjabat tangan, tapi kamu menolaknya, malah menangkupkan kedua tanganmu. Berat melakukannya. Tapi ketika aku berpikir, tidak menjabat tangannya adalah hal yang terbaik. Aku pernah mendengar: "Lebih baik" ditusuk dengan besi panas daripada bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Aku jadi berpikir ulang, apakah sebegitu berat hukuman bagi yang bersentuhan/bersalaman dengan yang bukan mahramnya? Bahkan disitu dikatakan "lebih baik" ditusuk besi panas? Aku membayangkan ditusuk besi panas saja sudah sakitnya minta ampun, padahal itu dianggap lebih baik daripada bersentuhan dengan yang bukan mahramnya. Entah, aku tidak bisa membayangkan separah apakah hukum jika bersentuhan dengan yang bukan mahram.

Sebenarnya di satu sisi aku kecewa saat aku tak bisa bersalaman dengan orang yang aku kagumi, tetapi aku juga tidak akan sanggup ketika menerima hukuman yang lebih berat dari ditusuk besi panas "hanya" karena bersalaman dengan orang yang aku kagumi tetapi bukan mahramku.

Rabu, 11 Juni 2014

Waktu dan Diriku

Dulu aku membaca suatu cerita yang membuatku berkata "kelak aku tak akan seperti ini".
Yang aku ingat, ada seorang anak yang orang tuanya sangat sibuk bekerja sampai-sampai tak pernah bermain bersama anaknya. Orang tuanya selalu berkata bahwa mereka bekerja untuk mendapatkan uang untuknya. Suatu kali, anak itu bertanya berapa gaji orang tuanya dan disebutkan jumlahnya sekian. Dan tanpa diduga, suatu hari, sang anak menyodorkan uang kepada orang tuanya dan berkata, "Ini uang yang telah aku tabung, cukupkah ini untuk membeli 1 jam saja waktu Ayah dan Ibu untuk bermain denganku?"
Ya Allah, dulu, saat aku membaca cerita ini aku rasanya sedih, sebegitu sibuk kah orang tua tersebut sampai bermain dengan orang tuanya pun tak bisa. Sebegitu sibuk kah? Batinku.
Akan tetapi, sekarang kenyataan pada cerita itu berbalik padaku dengan keadaan yang berbalik pula.
Suatu ketika, orang tuaku tiba-tiba menjengukku di tanah rantau. Senang? Jelas. Sudah tentu berkumpul bersama keluarga itu menyenangkan. Tetapi saat itu aku ingat bahwa besoknya aku ada janji pada pagi hari dan acara organisasi di siang hari serta kajian di sore hari. Saat itu aku bingung besok harus bagaimana tetapi belum kuutarakan. Esoknya, orang tuaku mengajakku pergi ke luar. Aku bingung. Aku ceritakan bahwa aku ada janji. Mereka berkata, yasudah sesudah itu. Aku pun menyambung lagi, setelah itu ada acara organisasi. Mereka berkata lagi, yasudah, sesudah itu. Aku pun menambahkan lagi, setelah itu aku ada kajian. Sebenarnya aku merasa bersalah mengatakan itu, tapi itulah kenyataannya. Setelah aku bilang begitu, ibuku berkata dengan nada entah kecewa entah marah, "Yaudahlah Pak, ayo kita pulang aja, la wong yang dijengukin aja malah pergi. Udah disempetin njenguk malah yang dijenguk pergi."
Ya Allah, saat itu aku merasa sangat bersalah. Iya benar, orang tuaku menyempatkan diri untuk menjenguk tapi malah aku sibuk dengan seabrek kegiatan lain. Ya Allah, aku merasa seperti anak tidak berbakti yang bahkan tidak mempunyai waktu untuk orang tuaku sendiri :'(
Saat itu aku teringat akan cerita anak kecil tadi, yang bahkan aku sendiri sudah bertekad tak akan menjadi orang seperti itu. Haruskah orang tuaku membeli waktuku untuk bisa berkumpul?
Akhirnya aku menjelaskan pada temanku bahwa aku tidak bisa memenuhi janjiku. Dan melihat aku yang kebingungan, akhirnya aku diizinkan untuk mengikuti acara organisasi dan orang tuaku tetap menugguiku di kosku. Alhamdulillah.
Aku sedih karena aku belum bisa berbakti yang benar-benar hanya untuk orang tuaku. Tapi aku bangga, aku memiliki orang tua yang tidak otoriter dan selalu mendukung anaknya ketika hal yang ia lakukan tidak menyalahi aturan agama :) Bahkan ketika nilaiku jelek tapi itu memang usahaku sendiri dan aku sudah berusaha semampuku, aku tak pernah dimarahi dan hal itu tidak pernah diungkit. Aku tahu, mereka mempercayaiku sepenuhnya
Terima kasih Bapak, Ummi :)
Seringkali rasa iri muncul, menjadikanku berandai andai; "andai aku seperti dia yang bisa A", atau "andai seperti dia yang bisa B". Sering. Akan tetapi, seharusnya aku ingat, setiap orang memiliki kelebihan masing-masing. Allah memberi orang keahlian berbeda-beda untuk saling membantu dan melengkapi satu sama lain. Harusnya aku bersyukur atas apa yang aku punya dan bukannya mengeluh atas apa yang tidak aku punya. Mungkin saat ini aku belum se sukses 'dia' atau 'dia', tapi suatu saat insya Allah, aku akan sukses lewat jalan lain yang telah ditetapkan Allah untukku :)

Jumat, 11 April 2014

Bimbing Aku Saudariku

11 April 2014

Belakangan ini banyak hal-hal yang mengetuk kesadaranku.
Mengikuti suatu lembaga dakwah bukanlah hal yang mudah. Memang mungkin untuk bergabung di ke dalam lembaga tersebut tidaklah sulit, tetapi menjaga komitmen dan terus mencoba memperbaiki diri itulah yang belum bisa aku resapi nilainya. Iri sebenarnya, tetapi juga bangga, ketika banyak teman yang dapat menjadi jauh lebih baik setelah mengikuti lembaga dakwah tersebut. Bangga karena dapat berteman dengan mereka yang semangat menjadikan diri mereka lebih baik, tetapi iri karena aku tak mempunyai semangat sebesar mereka. Aku ingat, pertama kali masuk ke lembaga ini, banyak diantara teman-temanku yang masih memakai celana jeans, jilbab transparan, bersalaman dengan yang bukan mahram, bahkan masuk lembaga karena dipaksa orang tua, dan sebagainya. Tapi begitu melihat mereka sekarang, aku iri. Lihatlah, mereka kini telah berubah! Jauh menjadi lebih baik bahkan! Malu, malu rasanya aku ketika membandingkan diriku dengan mereka. Lihatlah jilbab mereka yang kini telah terbentang lebar dan panjang menggantikan jilbab transparan mereka, lihatlah rok-rok yang kini menggantikan celana jeans mereka. Apa yang sudah kamu ubah wahai diriku? Aku masihlah seperti dulu. Diriku, apakah kamu tidak malu? Mereka yang awalnya terpaksa saja bisa berubah. Bahkan jauh lebih pesat dan lebih baik dariku. Padahal lembaga kita sama, lalu apa yang membedakan kita wahai saudariku? Mengapa aku tak memiliki semangat yang sama sepertimu? Aku malu wahai saudariku, sungguh malu. Aku harap, walaupun aku terlambat menyadarinya, aku akan dapat memiliki semangat seperti kalian. Akan kumulai dengan hal kecil yang dapat aku lakukan. Hal kecil, rutin, dan kupegang teguh. Doakan aku wahai saudariku. Inilah langkah awalku untuk selalu berusaha menjadi lebih baik sepertimu. Walaupun perubahannya mungkin tak se-signifikan dirimu, aku akan terus berusaha memperbaiki diri wahai saudariku.
Tertanda, saudari seimanmu :')

Jumat, 03 Agustus 2012

Pendidikan Masa Kini

Sistem pendidikan di Indonesia emang semakin lama semakin maju. Taun berganti, sistemnya ganti. KKM-nya naik. Prasarana dilengkapi, dan so pasti, biayanya naik juga dongg. Di tengah galau-nya para orang tua mencari biaya pendidikan, ternyata ada yang lebih mengejutkan sekaligus meng-galau-kan lagi.

MASUK SD AJA PAKE TES COBA! -___- *ga kebayang deh..

Mulai dari tes mbaca lah, ngitung, dan lain-lain. Aku heran juga sebenernya. Perasaan dulu aku masuk SD cuma daftar, terus keterima, tinggal sekolah deh, ga pake tes-tes.an. La sekarang gile bener, masa anak TK yang masih imut-imut amit-amit gitu di tes?? Kalo anak SD masuk SMP/ anak SMP masuk SMA si mending ya..La ini anak TK Mau masuk SD coba! Bayangin deh gemana ribetnya nge.tes anak-anak TK yang masih polos bin oon itu. Kalo di bayanganku sih, ada yang nangis lah, bingung lagi ditanya apa lah, cuma diem aja lah, dll. Ckckckck, kasian sekali anak jaman sekarang.

Nah, itu kalo tu anak masuk TK, la kalo tu anak kaga TK? Berhitung? Menulis? *Mungkin si anak cuma bisa bengong* Tambah susah dong kalo mau masuk SD? Ckckck,

Emang bagus si kalo mutu pendidikan semakin hari semakin naik, tapi kan ya liat-liat dong ya. Bukannya setiap daerah/desa ada SD-nya masing-masing? Harusnya ketampung dong anak-anak desa itu. Masa iya harus pake di-tes segala? #kasian kasian kasian...   -__-